Minggu, 10 Desember 2017

Curug Kedung Pane Wisata Peralihan Penuh Kesan

Curug Kedung Pane
By Gigih Asmara (Feature) 


            Curug Kedung Pane adalah sebuah salah satu destinasi wisata lokal yang dimiliki oleh Kecamatan Wadaslintang yang masih dalam lingkup wilayah Desa Wisata Erorejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Kedung Pane adalah sebuah curug yang tepatnya berada di Dusun Siwindu yang lokasinya berdekatan dengan objek wisata Lubang Sewu yang sudah lebih dikenal oleh masyarakat secara luas. Jika ditempuh dari Kota Wonosobo berjarak sekitar 38 km yang memakan durasi waktu sekitar satu setengah jam perjalanan, apabila dari pusat Kecamatan Wadaslintang berjarak sekitar 7,5 km. Curug ini atau air terjun ini berada di atas puncak sebuah bukit yaitu Bukit Siwindu yang tingginya tidak terlalu tinggi, sekitar 600 meter. Kondisi jalan menuju tempat ini sangat baik yaitu berupa jalan aspal, tetapi untuk menuju tepat pada air terjunnya pengunjung dapat berjalan kaki. Pengunjung dapat naik ke tempat ini menggunakan sepeda motor maupun menggunakan transportasi publik seperti ojek.
            Curug Kedung Pane mulai di buka untuk umum pada tahun 2016, sebenranya dibukannya tempat ini sebagai bentuk pengembangan Desa Wisata Erorejo dan juga salah satu bentuk pengalihan wisatawan yang terlalu padat serta untuk memberikan suasana lain di desa tersebut selain destinasi wisata Lubang Sewu. Objek wisata ini dikelola secara mandiri oleh Desa Erorejo yang dikendalikan oleh pemuda Desa Erorejo, tidak ada tiket masuk untuk menjadi tempat ini, karena tempat ini masih dalam tahap pengembangan. Tempat ini dibuka juga karena majunya destinasi wisata yang ada di Desa Erorejo, yaitu obek wisata Lubang Sewu. Menurut cerita warga sekitar konon tempat ini merupakan sebuah tempat yang sakral dan juga memiliki nilai-nilai mitos dan juga kebudayaan. Setiap hari-hari besar dan hari-hari tertentu pada zaman dahulunya sering digunakan sebagai tempat berendam hal tersebut sudah menjadi kebudayaan, tetapi seiring dengan majunya zaman hal-hal semacam itu sudah tidak dilakukan lagi. Curug Kedung Pane sekarang tidak lagi menjadi sebuah tempat yang menyeramkan, tetapi menjadi sebuah tempat yang memiliki kedamaian dan kenyamanan.
            Berbagai aktivitas dapat dilakukan pengunjung di tempat ini, diantaranya adalah berfoto dan juga pengunjung dapat berenang di Curug Kedung Pane. Curug ini aman jika digunakan untuk aktivitas berenang, karena dasar dari curug ini tidak berupa batuan melainkan pasir. Kedalamannyapun tidak terlalu dalam jadi apabila bagi para wisatawan yang mengunjungi tempat ini dapat berenang dengan rasa aman serta air yang ada di curug ini cukup dingin dan sangat segar. Airnyapun sangat bening, sehingga wisatawan dapat berenang dengan melihat bebatuan kecil yang sangat indah didasar sungai dimana batu tersebut dapat dibuat sebagai bahan batu akik karena warnannya yang sangat menarik. Berenang di tempat ini juga sangat cocok untuk para pecinta air, berenang di Curug Kedung Pane bisa membuat seseorang betah untuk berlama-lama di tempat ini. Air terjunya yang memiliki tinggi hanya sekitar 10m dan muara air di bawahnya yang cukup luas menjadi daya tarik tersendiri dan keunikan yang dimiliki oleh Curug Kedung Pane, karena biasanya curug yang memiliki muara air yang luas memiliki air terjun yang cukup tinggi serta debit airnya besar, sehingga dapat mengurangi kenyamanan saat berenang. Bagi para pengunjung alangkah baiknya datang ketempat ini menjelang sore hari, karena apabila berenang berasa sangat segar dan juga suhu di sekitar curug tidak terlalu dingin. Curug ini belum banyak diketahui oleh banyak orang, hanya saja beberapa masyarakat Kecamatan Wadaslintang yang mengetahui tempat ini, jadi apabila wisatwan yang menyukai suasana sepi dan ingin menikmati kesejukan serta ketenangan tempat ini sangatlah pas.
            Curug Kedung Pane pengelolaanya dilakukan langsung oleh pemuda Desa Erorejo yang masih satu pengelola dengan objek wisata Lubang Sewu. Selain bisa menikmati indahnya Curug Kedung Pane, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan dari atas bukit, yaitu Bukit Siwindu. Bukit Siwindu juga merupakan sebuah atraksi yang ada di Dukuh Siwindu yang berdekatan dengan Curug Kenu Pane. Setelah berenang dan juga menikmati indahnya curug, pengunjung ketika  pada sore hari alangkah baiknya menaiki Bukit Siwindu. Di atas Bukit Siwindu wisatawan dapat melihat pemadngan yang sangat indah, yaitu pengunjung dapat melihat perairan Waduk Wadaslintang hampir secara keseluruhan, ditempat ini berasa seperti melihat waduk dari atas pesawat. Dari puncak Bukit Siwindu pula dapat menikmati indahnya golden sunset atau peristiwa matahari terbenam yang sangat indah. Tetapi terdapat beberapa kekurangan yang ada ditempat ini diantaranya adalah minimnya lampu penerangan jalan, hal ini sangat penting karena setiap pengunjung yang mengunjungi Curug Kedung Pane akan turun dari destinasi wisata tersebut dilakukan pada sore hari menjelang malam, kondisinya sangat gelap karena jalan menuju tempat ini hanya berupa pepohonan dan hutan-hutan yang cukup lebat, sehingga penerangan sangat perlu agar pengunjung merasa lebih aman. Pengelola dan pemerintah harusnya lebih kritis dan juga mengamati apa yang kurang dan perlu demi kegiatan pariwisata dan juga memajukan destinasi wiata lokal, seperti Curug Kedung Pane dengan potensinya yang memiliki daya tarik dan juga memiliki daya dukung yang baik. Tetapi bagi para pecinta alam dan pecinta wisata lokal yang jauh dari bising kota seperti urban tourism sangat tepat untuk mencari ketenagan dan juga keasrian serta sekedar untuk melepas penat dan juga bisingnya perkotaan.
Baca selengkapnya

Bukit Siloreng Indah Potensi Terisolir

Bukit Siloreng Indah
By Gigih Asmara (Feature) 


            Bukit Siloreng Indah atau dikenal dengan nama BSI adalah sebuah bukit yang terletak di Desa Somogede Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosbo. BSI memiliki jarak 42 km dari pusat kota Kabupaten Wonsobo dan memiliki jarak 7 km dari pusat Kecamatan Wadaslintang. Jika dari pusat Kota Wonosobo dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih satu setengah jam perjalanan. Lokasi dari Bukit Siloeng Indah ini cukup terpelosok, serta kondisi jalan yang masih kurang baik dan juga rusak, kondisi jalan berupa aspal tetapi memiliki struktur aspal yang kurang baik serta bercampur dengan tanah liat dan tanah liat, sehingga memerlukan waktu untuk dapat sampai ke tempat ini. Bagi para pecinta petualangan yang memacu adrenaline sangatlah cocok. Bagi para pengunjung yang ingin menuju ke tempat ini alangkah baiknya menggunakan kendaraan yang sesuai dengan kondisi jalan yang ada, seperti mengguanakan mobil atau motor yang memiliki tinggi yang cukup dari muka tanah. Tidak ada kendaraan atau transportasi publik yang secara komersil digunakan untuk menuju ke Bukit Siloreng Indah, yang ada hanyalah ojek, pengunjung bisa menyewa ojek dengan membayar Rp.20.000 hingga sampai kelokasi. Destinasi wisata ini belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas, karena destinasi wisata ini merupakan destinasi wisata yang cukup baru di Wadaslintang. Hanya sebagian masyarakat Wadaslintang dan sebagian masyarakat Kabupaten Wonosobo, tetapi pada tahun 2016 BSI semakin dikenal oleh masyarakat dengan diadakannya suatau ajang sekala nasional yaitu Ride The Adrenaline 2, dimana bukit ini sebagai tempat tujuan atau finish bagi para peserta motocross, dengan adanya acara tersebut Bukit Siloreng Indah semakin dikenal tidak hanya masyarakat Jawa Tengah, tetapi masyarakat dari daerah lainnya.
            Bukit Siloreng Indah dibuka untuk umum mulai pada tahun 2015 dan pada waktu dibukanya belum cukup banyak dikunjungi oleh masyarakat, bahkan masyarakat Kecamatan Wadaslintang. Bukit ini memiliki tinggi yang tidak terlalu tinggi yaitu sekitar 800 meter, tetapi itu hanya tinggi bukitnya, jika dihitung dengan dasar dan kontur desa memiliki tinggi lebih dari 1000 mdpl karena letaknya yang berada di pegunungan. Terdapat dua jalur pendakian untuk menuju tempat ini, yaitu jalur pendakian bagi pejalan kaki dan juga jalur bagi para offroader baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat,jadi baik motor maupun mobil sejenis jeep bisa sampai ke puncak bukit ini. Jalur tersebut sengaja dibuat oleh wisatawan sebagai jalur yang cukup unik dan juga langka, karena tidak semua bukit dapat dilalui dengan kendaraan. Bagi pejalan kaki juga tidak kalah seru karena pada waktu berjalan menuju puncak disuguhkan dengan pemandangan pegunungan yang sangat indah serta pepohonan pinus yang sangat menarik dan juga cocok untuk berfoto. Suasana bebukitan yang sangat asri dan sejuk membuat Bukit Siloreng Indah memiliki suasana yang sangat  nyaman dan betah berlama-lama di atas bukit. Bukit Siloreng Indah atau BSI ini memiliki sebuah keunikan tersediri, yaitu dapat melihat empat daerah Kabupaten yang Berbeda, yaitu Kabupaten Banjarnegara, Kebumen, Temanggung, dan sebagian wilayah Magelang. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing juga nampak jelas jika dilihat dari tempat ini. Pada pagi hari menjelang subuh hingga pukul setengah enam pagi, pengunjung dapat menikmati peristiwa matahari terbit, matahari yang terbit sangat indah dan juga menarik bagi para pecinta alam yang gemar menaiki gunung atau dataran yang tinggi untuk menikmati peristiwa tersebut. Lagit yang menguning serta disertai suhu udara yang cukup dingin sangat cocok apabila pengunjung menikmatinya dengan minuman hangat dan bersantai dengan teman-teman atau keluarga tercinta. Apabila pengunjung yang suka bermalam atau camping tempat ini juga sangat tepat, pengunjung bisa mendirikan sebuah tenda dan bermalam di tempat ini. Pada malam hari pengunjung dapat menikmati pemandangan langit yang indah yang dihiasi dengan bintang-bintang serta indahnya sinar bulan. Tempat ini juga menjajakan makanan khas dari Wadaslintang, yaitu “sego bucu” yaitu sebuah nasi yang didalmnya terdapat parutaran kelapa dan juga sayuran berupa daun singkong yang sudah halus, banyak pengunjung yang tertarik dan gemar, bahkan hingga membawanya untuk kembali pulang ke daerah asalnya. Pengunjung dapat menikamti pemandangan di sebuah tempat yang disediakan oleh penduduk, yaitu sebuah panggung yang cagaknya mengunakan poho yang cukup besar yang dibuat dari susunan bamboo yang ditata rapi.

            Bukit Siloreng Indah baru saja diresmikan oleh pemerintah derah Kabupaten Wonosobo pada tahun 2016 yang secara simbolis dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo. Bukit Siloreng ini sebenarnya sudah dikenal oleh masyarakat sebagai tempat yang memilik potensi wisata, tetapi pemerintah kurang memperhatikan dan juga kritis dalam menanggapi adanya potensi tersebut. Tempat ini sebenarnya banyak memiliki potensi, hanya saja kurang adanya sebuah pembanguanan yang baik, sehingga seolah-olah tempat ini dikelola dengan seadanya. Tidak jelasnya sistem pembayaran dan pengelolaan Bukit Siloreng Indah atau BSI membuat banyak pengunjung bertanya-tanya kemanakah uang tersebut disalurkan, padahal dengan adanya pendapatan dari pengunjung dapat digunakan sebagai biaya operasional untuk memajukan destinasi wisata tersebut. Minimnya fasilitas seperti kamar mandi juga perlu dijadikaan sebagai perhatian khusus, hal tersebut terkesan sepele tetapi juga dapat berdampak pada pengunjung yang enggan mengunjungi tempat ini. Kurangnya penerangan jalan menuju  akses dan juga kondisi medan yang kurang baik juga seharusnya menjadi tolak ukur dan sesuatu yang harus dibenahi, perbaikan ini tidak bisa dilakukan apabila hanya dilaukan oleh pemduduk saja, tetapi juga oleh Pemerintah. Potensi yang baik terkesan seperti terbengkelai apabila fasilitas yang digunakan sebagai penunjang kelancaran kegiatan di dalam suatu destinasi tidak diperhatikan secara maksimal. Tetapi bagi para pecinta alam dan juga pecinta gunung tempat ini cocok untuk dijadikan sebagai tempat menikmati adrenaline yang cukup menantang, serta tepat untuk para pemula yang ingin menjadi pendaki gunung sejati. 
Baca selengkapnya

Keindahan Bendungan Orde Baru Yang Masih Kokoh

Bendungan Wadaslintang
By Gigih Asmara (Feature)


            Bendungan Wadaslintang adalah sebuah tanggul yang membendung Waduk Wadaslintang yang lokasinya berada di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kebumen. Tetapi lebih tepatnya bendungan ini bertempat di Desa Sumberejo Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo. Letaknya berjarak 42 km dari Kota Wonosobo dan apabila pengunjung yang berasal dari daerah timur dan selatan bisa melewati Kecamatan Prembun yang jaraknya kurang lebih 15 km. Bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dan juga angkutan umum berupa bus dengan membayar Rp.20.000 sudah bisa sampai ke lokasi. Jika ditempuh menggunakan kendaraan pribadi bisa memakan waktu sekitar satu setengah jam dan apabila dengan angkutan umum dapat ditempuh dengan waktu yang lebih lama, yaitu sekitar dua jam dari Kota Wonosobo hal ini karena angkutan umum berhenti pada terminal yang dilewati. Kondisi jalan menuju lokasi ini sangat bagus dan mendukung karena jalan yang dilalui adalah jalan milik nasional dan jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Kebumen, Purworejo, dan Wonosobo, hanya saja alur jalan yang berkelok-kelok dan juga terkesan sepi.
            Waduk Wadaslintang dibangun pada tahun 1982 dan selesai pada tahun 1988 perlu waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan pembangunan mega proyek ini. Bendungan ini jika dilihat dari sejarahnya merupakan suatu bentungan yang pembanguananya diusulkan langsung oleh presiden ke dua Republik Indonesia yaitu Soeharto pada masa pemerintahannya yaitu Orde Baru yang dimasukan kedalam REPELITA atau Rencana Pembangunan Lima Tahun. Pembangunan objek ini memiliki berbagai macam fungsi diantaranya adalah untuk mencapai swasembada pangan di Indonesia pada waktu itu. Pembangunan ini juga merupakan usulan-usulan dari masyarakat yang sering terkena banjir sebelum adanya Bendungan Wadaslintang, seperti Kabupaten Kebumen dan juga sebagian Kabupaten Purworejo. Pembanguann Bendungan ini di lakukan oleh kontraktor asing yaitu PT.Resource Hydro Coorporation dari Fillipina yang bekerjasama dengan kontraktor Indonesia PT.Brantas Abipraya. Dalam pembangunan waduk ini juga menyisakan sebiah kisah yang cukup kelam, banyak sekali pegawai yang meninggal saat pengerjaan proyek, bahkan hingga jumlahnya ratusan orang baik dari asing maupun yang berasal dari Indonesia. Bendungan Wadaslintang diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada tahun 1988 dengan menyebar 200.000 bibit ikan di perairan Waduk Wadaslintang. Soeharto juga membubuhka tanda tangannya sebagai simbol diresmikannya waduk diatas sebuah batu yang sekarang dijadikan sebagai tugu yang disekelilingnya terdapat nama-nama para pekerja yang meninggal dalam pembuatan proyek ini.
            Bendungan Wadaslintang ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah yaitu dapat melihat pemandangan dan pegununungan yang ada di depan Waduk Wadaslintang karena waduk ini memiliki posisi bendungan yang diapit oleh dua pegunungan, jadi bendungan ini sangat unik tingginya sama dengan pegunungan batu yang mengapitnya. Bedungan ini memiliki tinggi 125 meter dan juga memiliki lebar 10 m serta memiliki panjang 650 m, bahkan waduk ini pernah menjadi waduk terdalam di kawasan Asia Tenggara. Konstruksi bangununan yang dimiliki juga sangat unik, pembangunan bentuk fisik bendungan tidak dibangun menggunakan semen, melainkan menggunakan tanah, pasir, dan campuran bebatuan yang digilas menggunakan alat berat hingga meninggi, pembangunan tersebut menggunakan teori pemadatan ini basah. Tipe atau model dari bendungan ini adalah tipe rockfile, bangunan bendungan banyak dikagumi oleh pakar-pakar konstruksi bangunan dan arsitek dunia karena modelnya yang unik dan sangat kuat, bahkan diprediksi dapat bertahan selama 200 tahun. Pembangunan waduk ini harus meneggelamkan lima desa di Kecamatan Wadaslintang yang basis utamnya adalah Desa Sumbersari sebagai desa yang paling besar ditenggelamkan. Waduk ini mampu menampung air sebanyak 443.000 m3 dan air tersebut selain digunakan untuk saran irigasi juga digunakan sebagai PLTA Pembangkit Listrik Tenaga Air yang listriknya digunakan untuk menghidupi Pulau Jawad dan Bali yang dilakukan secara bergiliran dalam pengoperasiannya bergantian dengan waduk lain di Pulau Jawa. Bendungan ini juga unik yaitu bendungan ini atasnya digunakan sebagai jalan utama yang menghubungkan ke sebuah desa yaitu Desa Kaligowong.

            Bedungan Wadaslintang juga digunakan sebagai tempat wisata, waduk ini sering dikunjungi oleh wisatawan yang berasal baik dari daerah seitar Wadaslintang maupun daerah lainnya. Pegunjung sangat penasaran dengan bangunan bendungan dan juga pemandangan yang ada disekitar Bendungan Wadaslintang. Apabila pada bulan puasa tempat ini sangat ramai dikunjungi oleh orang-orang pada sore hari, tidak hanya bulan puasa pada akhir minggu tempat ini juga banyak digunakan untuk nongkrong anak-anak muda dan juga sebagai tempat para komunitas-komunitas baik motor, maupun komunitas lainnya menunjukan kemampuan yang dimiliki sesuai dengan komunitasnya. Pada pagi hari pada saat udara masih dingin tempat ini memiliki daya tarik tersendiri yaitu ketika berada di atas bendungan pengunjung akan seperti berada di atas awan karena kabut-kabut masih menggumpal di depan bendungan dan sangat cocok untuk diabadikan dengan berfoto. Waduk ini sangat cocok untuk wisatawan yang juga gemar memancing, karena tempat ini merupakan tempat favorite yang digunakan untuk memancing, bahkan terdapat beberapa pemancing yang berasal dari luar daerah. Pengunjung juga dapat menikmati dan membawa pulang sebuah makanan khas Desa Sumberejo yaitu Pepes Ikan Nila yang sangat khas dan hanya ada di Kecamatan Wadaslintang khususnya Desa Sumberejo. Oleh karena itu bagi para traveler tidak ada salahnya mencoba mengunjungi destinasi wisata lokal yang satu ini dijamin bakal seru dan akan menjadi kenangan yang menyenangkan. 
Baca selengkapnya

Ketenggelaman Yang Menyembunyikan Keindahan

Lubang Sewu
By Gigih Asmara (Feature)


            Lubang Sewu adalah salah satu objek wisata baru yang menjadi unggulan dan salah satu objek wisata terunik yang dimiliki oleh Kabupaten Wonsosobo. Lubang Sewu ini berlokasi di Desa Erorejo Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, tempat ini merupakan objek wisata lokal yang memiliki banyak keindahan yang tidak kalah dengan objek wisata yang sudah dulu ada. Tempat ini lebih tepatnya merupakan sebuah tempat yang berdekatan dengan objek wisata Waduk Wadaslintang berada disebelah barat dari waduk tersebut. Jika dari Kota Wonosobo berjarak 38 km yang dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum berupa bus dan memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Akses menuju tempat ini sangatlah baik, jalan sangat mudah karena letaknya yang tidak jauh dari jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Kebumen. Apabila wisatawan yang bersal dari daerah selatan dan timur bisa melewati Kecamatan Prembun untuk sampai di lokasi ini, dari kecamatan tersebut juga terdapat angkutan umum yang melewati Lubang Sewu berupa busa dan membayar dengan Rp.20.000 setiap penumpang.
            Lubang Sewu adalah salah satu objek wisata yang sangat unik, destinasi wisata ini merupakan salah satu destinasi wisata yang keberadaannya sebenarnya sudah cukup lama dan kuno. Batuan yang tersusun di tempat ini menurut cerita warga sekitar sudah ada sejak puluhann bahkan ratusan tahun yang lalu, hanya saja tidak dikembangkan seperti sekarang. Lubang Sewu juga memiliki cerita yang sedikit mistis, konon katanya tempat ini adalah sebuah kerajaan jin sebagai tempat berkumpulnya para jin. Tetapi dibalik itu semua tempat ini memiliki keindahan yang sangat menarik tidak kalah dengan destinasi wisata unggulan yang ada di Kabupaten Wonosobo dan juga di daerah yang lainnya. Pada waktu sore hari datang, orang-orang dapat menikmati indahnya peristiwa matahari terbenam atau biasa disebut dengan istilah golden sunset, jadi pengunjung tidak perlu mengunjungi pantai. Batuan yang tersusun ditempat ini sangatlah banyak dan juga memiliki struktur tumpukan batuan yang sangat kokoh, meskipun terdapat batuan yang bangian bawahnya kecil dan besar pada bagian atasnya. Di atas batuan ini biasanya pengunjung berdiri dan menjelajahi batuan untuk menikmati suasana yang ada.
            Lubang Sewu dibuka dan diresmikan belum cukup lama, yaitu diresmikan pada tahun 2014 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo. Ditetapkannya objek wisata Lubang Sewu juga disertai dengan penetapan Desa Erorejo sebagai desa wisata unggulan yang dimasukan dalam 19 desa wisata unggulan di Kabupaten Wonosobo. Pada awal dibukanya, tempat ini dikunjungi oleh ribuan wisatawan yang bersal dari berbagai daerah, khususnya Jawa Tengah. Pengelolaan destinasi wisata Lubang Sewu dikelola secara madiri oleh desa, dengan memberdayakan warga Desa Erorejo, pemerintah terlibat dalam hal pengawasan dan bantuan mudal. Tiket masuk cukuplah murah hanya Rp.6000 pengunjung dapat menikmati tempat ini sepuasnya dan dapat melakukan berbagai kegiatan yang ada di tempat ini. Lubang Sewu adalah sebah nama yang unik dan juga terdengar sedikit kuno, tetapi nama tersebut memiliki makna dan juga tepat dengan kondisi destinasi yang ada. Nama lubang sewu bersalah diambil dari karakteristik batuan yang sangat unik, yaitu memiliki lubang-lubang yang jumlahnya sangat bayak, oelh karena itu destinas wisata ini diberi nama Lubang Sewu. Pada awal dibukannya objek wisata Lubang Sewu pengeola mendapatkan pemasukan yang sangat besar karena banyak sekali pengunjung, pengelola mendapatkan pemasukan hingga belasan juta setiap harinya.

            Lubang Sewu adalah objek wisata yang dipenuhi dengan batuan-batuan yang menyerupai kapur, batuan yang tersusun adalah batuan “cadas” sebuah batuan yang memili struktur seperti kapur tetapi memiliki tekstur yang sangat kuat, penduduk sekitar menyebutnya sebagai batu “wadas” sesuai dengan nama kecamatannya, yaitu Kecamatan Wadaslintang. Lubang Sewu memiliki beberapa keunjikan yang sangat khas, yaitu objek wisata ini tidak setiap saat bisa dinikmati oleh pengunjung karena objek wisata ini bersifat musiman. Apabila pada musim kemarau tempat ini bisa dikunjungi dan dinikmati, tetapi apabila pada musim penghujan tempatini tidak bisa dikunjungi karena batuan yang ada tenggelam oleh air dari Waduk Wadaslintang yang sedang penuh, jadi pengunjung alangkah baiknya mengunjungi tempat ini pada musim kemarau. Keunikan yang selanjutnya adalah batuan yang ada di tempat ini berwarna putih kekuning-kuningan yang sangat menarik untuk media berfoto dan juga batuan yang ada terkesan seperti batuan-batuan yang ditancapkan di tanah serta saling berhubungan antara satau batu dengan batuan-batuan yang lainnya. Lubang Sewu selain dapat digunakan untuk menikmati indahnya sunset atau matahari tenggelam, juga memiliki sesuatu yang menarik yaitu dapat melihat pemandangan yang sangat indah, yaitu melihat dua pegunungan yang mengapit bendungan Waduk Wadaslintang yang tidak dapat dinikmati di tempat-tempat yang lainnya. Pada setiap akhir pekan terdapat berbagai macam pertunjukan yang berupa sebuah pagelaran seni yang dilakukan oleh masyarakat Desa Erorejo yaitu berupa “embleg” sebuah tari kuda kepang khas Wadaslintang dan juga oertunjukan music tradional menggunakan alat musik yang sangat sederhana, masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah “thek-thek”. Lubang Sewu juga sering digunakan untuk berbagai acara, baik dalam skala lokal, daerah, maupun pada tingkat nasional. Pengunjung fapat melakukan berbagai aktivitas disini, bisa melakukan foto disetiap sudut bebatuan yang sangat instragamebel. Pengunjung juga dapat menaiki dayung disekitaran perairan waduk serta dapat menaiki perahu komersil mengelilingi perairan Waduk Wadaslintang. Tidak hanya itu pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh khas berupa Pepes Ikan Nila khas Wadaslintang yang tentunya sangat cocok utuk oleh-oleh. Fasilitas umum juga terdapat di Lubang Sewu diantaranya adalah sanitasi atau kamar mandi, hanya kondisinya kurang baik kurang adanya suatu pembangunan yang berarti bagi fasilitas ini, kemudian mushola juga terdapat di tempat ini, jadi setiap pengunjung tetap dapat melakukan peribadahan dengan baik. Banyak sekali potensi yang ada ditempat ini, seharusnya pengelola dan juga pemerintah Kabupaten Wonosobo lebih kreatif dan juga lebih kritis terhadap segala potensi yang ada. Tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi, terutama bagi pengunjung yang gemar menikmati golden sunset pada sore hari. 
Baca selengkapnya

Dermaga Tritis Wadaslintang Keindahan Dibalik Keindahan

Dermaga Tritis Wadaslintang
By Gigih Asmara (Feature) 


            Dermaga Tritis adalah sebuah dermaga kecil yang digunakan untuk berlabuh perahu kecil sebagai alat transportasi sebagai sarana kegiatan masyarakat yang menghubungkan antara desa-desa di Wadaslitang. Dermaga ini lebih tepatnya terletak di Dusun Paras, Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Letaknya cukup strategis, yaitu hanya berjarak 1,5 km dari Kantor Kecamatan Wadaslintang sebagai pusat kegiatan masyarakat dan berjarak kurang lebih 37 km dari Kota Wonosobo. Lebih tepatnya Dermaga Tritis terletak di bibir Waduk Wadaslintang yang paling utara. Untuk menuju lokasi bisa ditempuh menggunakan sepeda motor atau kendaraan pribadi lainnya, kondisi jalan sudah sangat baik menggunakan konstruksi cor beton, jadi akses menuju lokasi sangatlah mudah dijangkau dan ditemui.
            Dermaga ini sangat berpotensi dan juga memiliki daya dukung lingkungan yang cukup baik. Jika dilansir dari sejarahnya tempat ini dahulunya bukanlah sebuah dermaga, melainkan sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat bercocok tanam dan digunakan sebagai tempat perkebunan milik kolonial Belanda yang ditanami berbagai tanaman hasil bumi atau rempah-rempah dan juga tanaman palawija. Tanah disekitar dermaga ini sangatlah subur karena pada sebelum dibangunnya Waduk Wadaslintang terdapat sungai yang debit airnya tidak terlalu besar dan airnya selalu mengalir. Sungai-sungai yang mengaliri tempat ini yaitu sungai Kedung Muruh dan juga Kedung Tritis. Tempat ini pada zaman dahulunya juga digunakan sebagai tempat penjemuran hasil-hasil panen dari tanaman yang juga ditanam ditempat ini. Menurut cerita warga sekitar tempat ini juga merupakan pemasok hasil rempah-rempah yang cukup besar di area Karesidenan Kedu Jawa Tengah. Tempat ini mulai dikenal oleh masyarakat semenjak dibangunnya Waduk Wadaslintang yaitu pasa tahun 1982, tetapi hanya dikenal oleh masyarakat lokal atau sekitar Kecamatan Wadaslintang. Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat yang secara khusus dijadikan sebagai tempat wisata, hanya saja sebagai tempat yang digunakan sebagai sarana umum sebagai bentuk dari pengembangan infrasturktur dari Waduk Wadaslintang. Mulai pada tahun 2014 tempat ini mulai dimodernisasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wonosobo dan semenjak itulah dermaga ini mulai dikunjungi oleh banyak orang mulai dari anak-anak hingga orang tua.

            Dermaga Tritis memiliki bebagai macam potensi yang sangat mumpuni dan dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman dan juga keinginan para pengunjung. Dermaga yang ada memiliki panjang sekitar 25 m dan memiliki tinggi yang bervariasi sesuai dengan kondisi tanah dasarnya, sehingga dermaga ini memiliki sebuah keunikan dan spot foto yang sangat cantik dan menarik banyak masyarakat mengunjungi tempat ini. Keunikan yang dimiliki oleh tempat ini adalah tidak setiap saat bisa dikunjungi hanya bisa dikunjungi pada waktu dan bulan-bulan tertentu, seperti pada waktu musim kemarau, karena apabila dikunjungi pada musim penghujan tempat ini terendam oleh air waduk yang sedang naik dan juga apabila pada musim penghujan tempat ini tidak dapat menikmati pemandangan yang indah terutama pada waktu sore hari. Dengan kondisi demikian itu justru menjadi suatu daya tarik tersendiri dan juga ciri khas dari suatu tempat wisata yang tidak dimiliki oleh tempat-tempat di daerah lainnya. Pada musim kemarau banyak sekali orang-orang mengunjungi tempat ini karena pada musim inilah masyarakat dapat benar-benar menikmati keindahan pemandangan dan keindahan Dermaga Tritis. Tempat ini sangatlah strategis, tidak perlu mendaki gunung yang tinggi dan cukup melelahkan serta menguras tenaga, tempat ini dapat menikmati keindahan golden sunset atau peristiwa matahari terbenam yang sangat indah pada waktu sore hari, momen ini akan lebih indah jika dinikmati dengan sekedar meminum kopi dengan berduduk santai di pinggiran dermaga. Peristiwa matahari terbenam ini banyak di abadikan masyarakat dengan berfoto dan juga sekedar membuat story di akun instagramnya, momen inilah yang sebenarnya banyak ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Tempat ini banyak dikenal masyarakat juga karena keindahan peristiwa matahari terbenam yang dibalut dengan pemandangan Pegunungan Indrakila yang sangat menakjubkan. Dermaga Tritis sangat banyak memiliki spot foto sang sangat instagramebel atau kekinian yang sangat menarik minat banyak orang, terutama kaula muda yang hanya sekedar menghabiskan waktu pada sore hari. Spot foto yang ada di Dermaga Tritis diantaranya adalah jembatan tua bekas bangunan Belanda yang seakan-akan membawa ke zaman atau masa kolonial Belanda, tetapi jembatan ini tidak sewaktu-waktu dapat dijadikan sebagai spot foto, karena walaupun pada musim kemarau jembatan ini terkadang terendam air karena tempatnya yang memotong arus aliran sungai dan jembatan ini kondisinya sudah rusak, tetapi dengan rusaknya jembatan justru menjadi spot foto yang menarik. Spot foto yang menjadi andalan antara lainnya adalah hamparan padi yang telah menguning di sekitar Dermaga Tritis, kerana pada musim kemarau saat debit air sedang menurun tempat ini dijadikan sebagai tempat bercocok tanam, seperti padi, jagung, dan tanaman-tanaman tradisonal lainya serta dipergunakan sebagai tepat menjemur hasil panen. Tanahnuya sangat subur dikarenakan tenah bekas genangan air dan juga terdapat sisa-sisa bangkai ikan yang mati yang menyuburkan tanah. Jadi tempat ini selain digunakan sebagai tempat berwisata juga digunakan sebagai pencaharian masyarakat sekitar, khususnya warga Dusun Paras. 
Baca selengkapnya