Keindahan Bendungan Orde Baru Yang Masih Kokoh
Bendungan
Wadaslintang
By Gigih Asmara (Feature)
Bendungan
Wadaslintang adalah sebuah tanggul yang membendung Waduk Wadaslintang yang
lokasinya berada di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Kebumen. Tetapi lebih
tepatnya bendungan ini bertempat di Desa Sumberejo Kecamatan Wadaslintang Kabupaten
Wonosobo. Letaknya berjarak 42 km dari Kota Wonosobo dan apabila pengunjung
yang berasal dari daerah timur dan selatan bisa melewati Kecamatan Prembun yang
jaraknya kurang lebih 15 km. Bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dan
juga angkutan umum berupa bus dengan membayar Rp.20.000 sudah bisa sampai ke
lokasi. Jika ditempuh menggunakan kendaraan pribadi bisa memakan waktu sekitar
satu setengah jam dan apabila dengan angkutan umum dapat ditempuh dengan waktu
yang lebih lama, yaitu sekitar dua jam dari Kota Wonosobo hal ini karena
angkutan umum berhenti pada terminal yang dilewati. Kondisi jalan menuju lokasi
ini sangat bagus dan mendukung karena jalan yang dilalui adalah jalan milik
nasional dan jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Kebumen, Purworejo, dan Wonosobo,
hanya saja alur jalan yang berkelok-kelok dan juga terkesan sepi.
Waduk Wadaslintang dibangun pada tahun 1982 dan selesai
pada tahun 1988 perlu waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan pembangunan mega
proyek ini. Bendungan ini jika dilihat dari sejarahnya merupakan suatu
bentungan yang pembanguananya diusulkan langsung oleh presiden ke dua Republik
Indonesia yaitu Soeharto pada masa pemerintahannya yaitu Orde Baru yang
dimasukan kedalam REPELITA atau Rencana Pembangunan Lima Tahun. Pembangunan
objek ini memiliki berbagai macam fungsi diantaranya adalah untuk mencapai
swasembada pangan di Indonesia pada waktu itu. Pembangunan ini juga merupakan
usulan-usulan dari masyarakat yang sering terkena banjir sebelum adanya
Bendungan Wadaslintang, seperti Kabupaten Kebumen dan juga sebagian Kabupaten
Purworejo. Pembanguann Bendungan ini di lakukan oleh kontraktor asing yaitu
PT.Resource Hydro Coorporation dari Fillipina yang bekerjasama dengan
kontraktor Indonesia PT.Brantas Abipraya. Dalam pembangunan waduk ini juga
menyisakan sebiah kisah yang cukup kelam, banyak sekali pegawai yang meninggal saat
pengerjaan proyek, bahkan hingga jumlahnya ratusan orang baik dari asing maupun
yang berasal dari Indonesia. Bendungan Wadaslintang diresmikan langsung oleh
Presiden Soeharto pada tahun 1988 dengan menyebar 200.000 bibit ikan di
perairan Waduk Wadaslintang. Soeharto juga membubuhka tanda tangannya sebagai
simbol diresmikannya waduk diatas sebuah batu yang sekarang dijadikan sebagai
tugu yang disekelilingnya terdapat nama-nama para pekerja yang meninggal dalam
pembuatan proyek ini.
Bendungan Wadaslintang ini juga memiliki pemandangan yang
sangat indah yaitu dapat melihat pemandangan dan pegununungan yang ada di depan
Waduk Wadaslintang karena waduk ini memiliki posisi bendungan yang diapit oleh
dua pegunungan, jadi bendungan ini sangat unik tingginya sama dengan pegunungan
batu yang mengapitnya. Bedungan ini memiliki tinggi 125 meter dan juga memiliki
lebar 10 m serta memiliki panjang 650 m, bahkan waduk ini pernah menjadi waduk
terdalam di kawasan Asia Tenggara. Konstruksi bangununan yang dimiliki juga
sangat unik, pembangunan bentuk fisik bendungan tidak dibangun menggunakan
semen, melainkan menggunakan tanah, pasir, dan campuran bebatuan yang digilas
menggunakan alat berat hingga meninggi, pembangunan tersebut menggunakan teori
pemadatan ini basah. Tipe atau model dari bendungan ini adalah tipe rockfile, bangunan bendungan banyak
dikagumi oleh pakar-pakar konstruksi bangunan dan arsitek dunia karena modelnya
yang unik dan sangat kuat, bahkan diprediksi dapat bertahan selama 200 tahun. Pembangunan
waduk ini harus meneggelamkan lima desa di Kecamatan Wadaslintang yang basis
utamnya adalah Desa Sumbersari sebagai desa yang paling besar ditenggelamkan.
Waduk ini mampu menampung air sebanyak 443.000 m3 dan air tersebut selain
digunakan untuk saran irigasi juga digunakan sebagai PLTA Pembangkit Listrik Tenaga
Air yang listriknya digunakan untuk menghidupi Pulau Jawad dan Bali yang
dilakukan secara bergiliran dalam pengoperasiannya bergantian dengan waduk lain
di Pulau Jawa. Bendungan ini juga unik yaitu bendungan ini atasnya digunakan
sebagai jalan utama yang menghubungkan ke sebuah desa yaitu Desa Kaligowong.
Bedungan Wadaslintang juga digunakan sebagai tempat wisata,
waduk ini sering dikunjungi oleh wisatawan yang berasal baik dari daerah seitar
Wadaslintang maupun daerah lainnya. Pegunjung sangat penasaran dengan bangunan
bendungan dan juga pemandangan yang ada disekitar Bendungan Wadaslintang.
Apabila pada bulan puasa tempat ini sangat ramai dikunjungi oleh orang-orang
pada sore hari, tidak hanya bulan puasa pada akhir minggu tempat ini juga
banyak digunakan untuk nongkrong anak-anak muda dan juga sebagai tempat para
komunitas-komunitas baik motor, maupun komunitas lainnya menunjukan kemampuan
yang dimiliki sesuai dengan komunitasnya. Pada pagi hari pada saat udara masih
dingin tempat ini memiliki daya tarik tersendiri yaitu ketika berada di atas
bendungan pengunjung akan seperti berada di atas awan karena kabut-kabut masih
menggumpal di depan bendungan dan sangat cocok untuk diabadikan dengan berfoto.
Waduk ini sangat cocok untuk wisatawan yang juga gemar memancing, karena tempat
ini merupakan tempat favorite yang digunakan untuk memancing, bahkan terdapat beberapa
pemancing yang berasal dari luar daerah. Pengunjung juga dapat menikmati dan
membawa pulang sebuah makanan khas Desa Sumberejo yaitu Pepes Ikan Nila yang
sangat khas dan hanya ada di Kecamatan Wadaslintang khususnya Desa Sumberejo.
Oleh karena itu bagi para traveler tidak ada salahnya mencoba mengunjungi
destinasi wisata lokal yang satu ini dijamin bakal seru dan akan menjadi
kenangan yang menyenangkan.
